Buku Pramuka Boyman

Kedai Atribut Pramuka Scout Addict Kediri menyediakan buku materi Pramuka Boyman 1 dan Boyman 2.

Tenda Dome Arei Outdoor

Kedai Pramuka Scout Addict menyediakan berbagai Tenda Dome Arei Outdoor kapasitas 2 dan 4 orang.

Aneka Produk Loreng Pramuka

Kedai Pramuka Scout Addict menyediakan berbagai macam produk berbahan kain Loreng Pramuka. Produk kami antara lain : Jaket, Celana, Rompi, Topi, dll.

Aneka Produk Logam Cor

Produk atribut perlengkapan Pramuka berkualitas dari Kedai Pramuka ScoutAddict Kediri

Pelayani Pemesanan Pin, Gantungan Kunci, ID Card

Kedai Pramuka Scout Addict juga melayani pemesanan pin, gantungan kunci, Id Card, dll untuk kegiatan maupun souvenir.

Dokumentasi Pengiriman

Dokumentasi dari pesanan yang pernah kami kirimkan. Kami pernah mengirim pesanan dari Aceh sampai Papua.

Jumat, 23 Agustus 2013

Pendidikan Pramuka Bentuk Karakter Bangsa

MATARAM-Pramuka memiliki peranan yang  sangat penting sebagai lembaga pendidikan non formal dalam membentuk kaum muda berkarakter, menamankan semangat kebangsaan dan meningkatkan keterampilan.

Pendidikan ke pramukaan sebagai salah satu pilar pendidikan kaum muda di Indonesia di tuntut untuk dapat lebih berkontribusi secara nyata dalam hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara.
“ Dalam tujuh tahun terakhir ini terdapat tiga hal yang menandai perkembangan gerakan pramuka yang berhasil dicapai selama ini “, kata Gubernur Nusa Tenggara Barat HM Zainul Majdi pada Upacara Puncak Peringatan Hari Ulang Tahun Pramuka ke-52 tahun 2013 tingkat provinsi NTB kamis (22/8) di Halaman Bumi Gora Kantor Gubernur NTB.

Ia mengatakan, ketiga perkembangan tersebut diantaranya, presiden RI telah mencanangkan kembali refitalisasi pramuka pada HUT Pramuka tahun 2006 silam yang saat ini tampak keberhasilannya dengan semakin marak kegiatan ke pramukaan di berbagai daerah.

Bahkan pada saat ini pramuka telah berhasil memperbaharui sistem kepramukaan dengan kurikulum yang baru, akreditasi gugus depan serta sertifikasi dan lisensi para pembina.

Selain itu juga, terbitnya undang-undang nomor 12 tahun 2010 tentang gerakan pramuka yang memperkuat legalitas pramuka di negeri ini.

“ Dengan UU tersebut maka pelaksanaan pendidikan ke pramukaan saat ini tidak hanya mengisi masa senggang kaum muda namun telah meningkat menjadi kewajiban setiap warga negara untuk melaksanakannya.

“ Sementara itu Ungkap Gubernur, perkembangan ketiga gerakan pramuka adalah masuknya pendidikan ke pramukaan dalam kurikulum 2013 sebagai ekstrakurikuler wajib yang akan diberlakukan pada tahun 2013 ini.

“ Khusus untuk yang ketiga ini gerakan pramuka dapat memahami sepenuhnya latar belakang rencana menjadikan pendidikan ke pramukaan sebagai mata pelajaran ekstrakurikuler wajib. Karena permasalahan yang dihadapi oleh kaum muda Indonesia pada tahap yang mengkhawatirkan “, paparnya.

Guna percepatan pembentukan karakter kaum muda, Gubernur mengajak seluruh anggota gerakan pramuka untuk lebih merapatkan barisan dan menyatukan gerak langkah. Sedangkan kepada pimpinan kwartir cabang, kwartir ranting, gerakan pramuka dan pembina pramuka di daerah ini secara bersama meningkatkan kwalitas gugus depan sebagai wahana pendidikan karakter bangsa.

Sumber : http://rri.co.id/index.php/berita/66797/Pendidikan-Pramuka-Bentuk-Karakter-Bangsa.#.UhbH5n82Dk8

Rabu, 21 Agustus 2013

Jangan Memaksakan Pramuka

Tulisan ini bukan untuk mengkritik atau menggurui, apalagi menghalang-halangi pihak-pihak yang akan merealisasikan gagasan-gagasan tentang Gerakan Pramuka. Tulisan ini adalah pandangan yang disusun sesuai dengan pemahaman saya tentang Gerakan Pramuka dan berbagai telaah pustaka yang telah saya lakukan.

Beberapa media cetak lokal di Soloraya, Kamis (15/8), mewartakan Bupati Sragen Agus Fatchur Rahman mencanangkan progam wajib Pramuka bagi pelajar dan pegawai negeri sipil (PNS) di Kabupaten Sragen. Program wajib Pramuka itu dicanangkan saat upacara peringatan HUT ke-52 Gerakan Pramuka, Rabu (14/8). Berita itu cukup mengusik dan menggelitik hati dan pikiran saya.
Kebijakan tersebut diambil karena menurut Agus Fatchur Rahman generasi muda kini mulai kehilangan karakter kebangsaan, karakter keindonesiaan. Pendidikan Kepramukaan diharapkan menjadi salah satu alat rekayasa masa depan untuk membangun generasi muda yang berkarakter kuat. Bupati Sragen menginstruksikan semua PNS dan pejabat di lingkungan Pemkab Sragen terlibat aktif dalam Gerakan Pramuka.

Keterlibatan aktif itu antara lain dengan mengenakan seragam Pramuka setiap Kamis dan mengikuti kegiatan perkemahan Pramuka pada waktu tertentu. Selain itu, pejabat (baca: kepala satuan kerja perangkat daeran atau SKPD) juga diwajibkan menjadi bapak angkat dari gugus depan (gudep) sekolah. Hal yang sama juga telah dilakukan Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya beberapa tahun lalu yang mencanangkan Kabupaten Sukoharjo sebagai kabupaten Pramuka. Seluruh PNS di Kabupaten Sukoharjo diinstruksikan untuk berseragam Pramuka setiap tanggal 14 (non-Dinas Pendidikan) dan setiap hari Jumat (Dinas Pendidikan).

Saat ini, Gerakan Pramuka masih menjadi gerakan yang masif (meluas). Gerakan Pramuka masih melekat di banyak sekolah. Peserta didik juga diwajibkan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pramuka, khususnya peserta didik kelas III, IV, dan V SD/MI, kelas VII SMP/MTs, dan kelas X SMA/SMK/MA. Atau, minimal seluruh peserta didik berseragam Pramuka pada Jumat dan/atau Sabtu. Bahkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah memasukkan Pendidikan Kepramukaan dalam Kurikulum 2013. Setiap peserta didik diwajibkan mengikuti kegiatan Pramuka.

Sekedar kilas balik, di awal Orde Baru Pendidikan Kepramukaan dititipkan di sekolah karena dikhawatirkan akan disusupi paham komunis. Cara itu juga untuk memudahkan menghimpun peserta didik dan pengadaan tenaga pembina dari para guru. Ini kemudian memunculkan istilah ”Pramuka wajib” bahkan tidak sedikit pengajar atau guru yang menyebut ”pelajaran Pramuka”.

Padahal Baden Powell dengan tegas menjelaskan Pendidikan Kepramukaan bukanlah suatu ilmu yang harus dipelajari dengan tekun atau kumpulan ajaran-ajaran dan naskah-naskah dari suatu buku. Pendidikan Kepramukaan adalah suatu metode untuk mendidik generasi muda yang interaktif dan progresif dengan kegiatan yang menyenangkan, menarik, menantang, terencana, terarah,  dan berkesinambungan di alam terbuka.

Gerakan Pramuka bukanlah tujuan. Gerakan Pramuka adalah alat yang bertujuan untuk membina dan membentuk manusia Indonesia yang mandiri, berkarakter kuat, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta memiliki rasa nasionalisme dan cinta Indonesia, tanah tumpah darah, yang tinggi.

Mewajibkan Pramuka bagi pelajar dan PNS ada sisi baiknya. Bagi pelajar akan memperoleh keterampilan dan kecakapan hidup seperti kemandirian, kepemimpinan, dan nilai-nilai budi pekerti luhur yang akan berguna dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan bagi PNS nilai-nilai positif seperti disiplin, gotong royong, kejujuran, dan lain sebagainya dapat diaplikasikan dalam menjalankan profesi mereka.

Ketika seseorang berseragam Pramuka dalam dirinya melekat kode kehormatan Tri Satya dan Dasa Dharma yang sangat sarat makna dan wajib diamalkan. Seseorang yang berprofesi sebagai PNS, sebagai abdi negara dan abdi masyarakat, tentu tidak hanya mengayomi dan melayani masyarakat, tetapi juga memberikan teladan kepada masyarakat. PNS yang berseragam Pramuka dapat menjadi salah satu solusi krisis keteladanan yang melanda bangsa ini.

Kesukarelaan
Namun, kebijakan PNS wajib berseragam Pramuka juga bisa menjadi bumerang. Ketika PNS tidak menjalankan tugas dengan benar seperti terlambat masuk kerja maka ia tidak hanya melanggar kode etik PNS, tetapi ia juga bisa melanggar UU No. 12/2010 tentang Gerakan Pramuka yang multitafsir jika dijadikan ”alat mengkriminalisasi” pejabat publik (kepala daerah) maupun penjabat strutrual (PNS). ”Alat mengkriminalisasi” tersebut pada Pasal 6 ayat (4) dan ayat (5) yaitu Kode Kehormatan Pramuka yang dikenal dengan Tri Satya dan Dasa Dharma yang wajib diamalkan oleh setiap anggota Pramuka.

Saya masih ingat ketika Walikota Padang Fauzi Bahar yang berang melihat ketidakdisplinan PNS di lingkungan Pemerintahan Kota Padang saat inspeksi mendadak pada hari pertama masuk kerja setelah libur Idul Fitri 2012. Walikota Padang itu mendapati 39 perempuan PNS dan 20 laki-laki PNS yang terlambat atau tidak mengenakan seragam lengkap sebagaimana ketentuan setiap hari Kamis yaitu mengenakan seragam Pramuka lengkap dengan setangan leher/pita leher dan memakai pin “Saya Anti Sogok”.

Sebagai ganjaran atas ketidakdisplinan tersebut, para PNS di lingkungan Pemerintah Kota Padang dihukum atau dibesi sanksi fisik berupa baris-berbaris untuk perempuan dan baris-berbaris serta push up untuk laki-laki pria. Pemberian hukuman atau sanksi fisik tersebut juga diperlihatkan dan diekspose oleh media massa pada Kamis, 23 Agustus 2012.

Contoh lain, ada 291 kepala daerah (gubernur/bupati/walikota) yang terjerat kasus korupsi dalam kurun 2004-Februari 2013. Padahal kepala daerah selaku ex officio Ketua Majelis Pembimbing Kwartir adalah ”Pramuka istimewa” yang menjadi ikon keteladanan masyarakat di wilayahnya. Jadi, pasal-pasal dalam UU Gerakan Pramuka juga dapat ditambahkan dalam tuntutan pidana untuk mereka.

Dukungan kepala daerah dalam Gerakan Pramuka sebaiknya bukan memformalkan Gerakan Pramuka. Dukungan itu sebagiknya berupa kebijakan meningkatkan kualitas proses pembinaan dengan mendorong untuk lebih menggiatkan kegiatan-kegiatan Pramuka di wilayah, baik di tingkat kwartir, kwartir di bawahnya, dan di tingkat gugus depan. Kepala daerah di setiap tingkatan adalah ex officio Ketua Majelis Pembimbing Kwartir di setiap tingkatan, semua instruksi dan/atau perintahnya tentu akan dilaksanakan oleh bawahannya.

Kegiatan-kegiatan yang harus didorong untuk lebih digiatkan antara lain Kursus Mahir Pembina Dasar/Lanjut; Kursus Pelatih Dasar/Lanjut; dan kegiatan-kegiatan besar seperti jambore/raimuna, perlombaan, dan lain sebagainya di tingkat kwartirnya maupun kwartir di bawahnya yang telah digariskan secara terstruktur dan sistematis oleh Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Tentu itu bisa ditambah kegiatan-kegiatan yang disesuaikan dengan keadaan dan kearifan lokal daerah.

Tetapi yang harus segera didorong untuk lebih digiatkan adalah penyelenggaaan perkemahan gladian pemimpin regu (dian pinru) di tingkat gugus depan. Di tingkat gugus depanlah peserta didik berada. Selain itu, perkemahan dian pinru hampir tidak pernah diselenggarakan di tingkat gugus depan. Untuk itu, diperlukan jumlah pembina Pramuka yang memadai dan berkualitas untuk menyelenggarakan perkemahan dian pinru tersebut.

Untuk mendorong dan menggiatkan Gerakan Pramuka di tingkat gugus depan, yang harus dilakukan oleh kepala daerah selaku ex officio Ketua Majelis Pembimbing Kwartir adalah menyelenggarakan kursus orientasi kepramukaan yang wajib diikuti (tidak boleh diwakilkan) oleh para kepala sekolah selaku ex officio Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan (Kamabigus). Hampir semua gugus depan berpangkalan di sekolah. Kepala sekolah diharapkan mampu lebih menggiatkan kegiatan-kegiatan Pramuka di gugus depannya.

Selain kepala sekolah, kursus orientasi ini juga harus diikuti oleh kepala desa/lurah, camat, kepala dinas (kepala satuan kerda perangkat daerah), atau kepala unit pelaksana teknis, dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya. Kursus ini bertujuan membangun kesadaran dan melibatkan masyarakat dalam kegiatan Pramuka sebagai wadah pendidikan nonformal yang paling sesuai dan paling selaras dengan sistem pendidikan nasional. Kesadaran dan kepedulian itu harus tulus dan ikhlas.

Kegiatan-kegiatan lain yang harus diselenggarakan adalah Kursus Mahir Pembina Dasar/Lanjut, Kursus Pelatih Dasar/Lanjut, dan lain sebagainya secara rutin dengan biaya yang terjangkau anggota Pramuka yang berniat mengikutinya. Dengan demikian, kekurangan Pembina Pramuka yang berkualitas dapat teratasi dan kualitas proses Pendidikan Kepramukaan juga meningkat.

Diakui atau tidak, Gerakan Pramuka atau Pendidikan Kepramukaan adalah satu-satunya mitra pemerintah dalam mengajarkan nilai-nilai positif seperti disiplin, gotong royong, kejujuran, dan lain sebagainya serta menanamkan rasa nasionalisme dan cinta Tanah Air kepada anggotanya secara terstruktur dan sistematis. Namun, prinsip dasar dalam Gerakan Pramuka yaitu sukarela tetap harus dijunjung tinggi. ”Wajib Pramuka” bagi pelajar dan PNS perlu ditinjau kembali.

Sumber : http://www.solopos.com/2013/08/21/gagasan-jangan-memaksakan-pramuka-439751

Konggres Pemuda Indonesia (Sumpah Pemuda)

Sumpah Pemuda adalah bukti otentik bahwa tanggal 28 Oktober 1928 bangsa Indonesia dilahirkan. Oleh karena itu sudah seharusnya segenap rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia. Proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.

Rumusan Konggres
Rumusan Kongres Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada secarik kertas yang disodorkan kepada Soegondo ketika Mr. Sunario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres (sebagai utusan kepanduan) sambil berbisik kepada Soegondo: Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini), yang kemudian Soegondo membubuhi paraf setuju pada secarik kertas tersebut, kemudian diteruskan kepada yang lain untuk paraf setuju juga. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.

Isi Konggres
Sumpah Pemuda versi orisinal:
Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoewa
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Sumpah Pemuda versi Ejaan Yang Disempurnakan:
Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Panitia Konggres
Dalam upaya mempersatu wadah organisasi pemuda dalam satu wadah telah dimulai sejak Kongres Pemuda Pertama 1926. Oleh sebab itu, tanggal 20 Februari 1927 telah diadakan pertemuan, namun pertemuan ini belum mencapai hasil yang final. 

Kemudian pada 3 Mei 1928 diadakan pertemuan lagi, dan dilanjutkan pada 12 Agustus 1928. Pada pertemuan terakhir ini dihadiri semua organisasi pemuda dan diputuskan untuk mengadakan Kongres pada bulan Oktober 1928, dengan susunan panitia dengan setiap jabatan dibagi kepada satu organisasi pemuda (tidak ada organisasi yang rangkap jabatan) sebagai berikut:

Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (yong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe'oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta :
  •     Abdul Muthalib Sangadji
  •     Purnama Wulan
  •     Abdul Rachman
  •     Raden Soeharto
  •     Abu Hanifah
  •     Raden Soekamso
  •     Adnan Kapau Gani
  •     Ramelan
  •     Amir (Dienaren van Indie)
  •     Saerun (Keng Po)
  •     Anta Permana
  •     Sahardjo
  •     Anwari
  •     Sarbini
  •     Arnold Manonutu
  •     Sarmidi Mangunsarkoro
  •     Assaat
  •     Sartono
  •     Bahder Djohan
  •     S.M. Kartosoewirjo
  •     Dali
  •     Setiawan
  •     Darsa
  •     Sigit (Indonesische Studieclub)
  •     Dien Pantouw
  •     Siti Sundari
  •     Djuanda
  •     Sjahpuddin Latif
  •     Dr.Pijper
  •     Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken)
  •     Emma Puradiredja
  •     Soejono Djoenoed Poeponegoro
  •     Halim
  •     R.M. Djoko Marsaid
  •     Hamami
  •     Soekamto
  •     Jo Tumbuhan
  •     Soekmono
  •     Joesoepadi
  •     Soekowati (Volksraad)
  •     Jos Masdani
  •     Soemanang
  •     Kadir
  •     Soemarto
  •     Karto Menggolo
  •     Soenario (PAPI & INPO)
  •     Kasman Singodimedjo
  •     Soerjadi
  •     Koentjoro Poerbopranoto
  •     Soewadji Prawirohardjo
  •     Martakusuma
  •     Soewirjo
  •     Masmoen Rasid
  •     Soeworo
  •     Mohammad Ali Hanafiah
  •     Suhara
  •     Mohammad Nazif
  •     Sujono (Volksraad)
  •     Mohammad Roem
  •     Sulaeman
  •     Mohammad Tabrani
  •     Suwarni
  •     Mohammad Tamzil
  •     Tjahija
  •     Muhidin (Pasundan)
  •     Van der Plaas (Pemerintah Belanda)
  •     Mukarno
  •     Wilopo
  •     Muwardi
  •     Wage Rudolf Soepratman
  •     Nona Tumbel

Kongres Pemuda Indonesia KeduaGagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.

Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng). Dalam sambutannya, ketua PPPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu "Indonesia Raya" karya Wage Rudolf Supratman yang dimainkan dengan biola saja tanpa syair, atas saran Sugondo kepada Supratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia.

Peserta
Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll. Di antara mereka hadir pula beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie namun sampai saat ini tidak diketahui latar belakang organisasi yang mengutus mereka. Sementara Kwee Thiam Hiong hadir sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond. Diprakarsai oleh AR Baswedan pemuda keturunan arab di Indonesia mengadakan kongres di Semarang dan mengumandangkan Sumpah Pemuda Keturunan Arab.

Gedung
Bangunan di Jalan Kramat Raya 106, tempat dibacakannya Sumpah Pemuda, adalah sebuah rumah pondokan untuk pelajar dan mahasiswa milik Sie Kok Liong.
Gedung Kramat 106 sempat dipugar Pemda DKI Jakarta 3 April-20 Mei 1973 dan diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada 20 Mei 1973 sebagai Gedung Sumpah Pemuda. Gedung ini kembali diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 Mei 1974. Dalam perjalanan sejarah, Gedung Sumpah Pemuda pernah dikelola Pemda DKI Jakarta, dan saat ini dikelola Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata.

Sumber : 
http://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Pemuda
http://semangatpemuda-indonesia.blogspot.com/p/sejarah-sumpah-pemuda.html

Selasa, 20 Agustus 2013

Pramuka Nunukan Ikut Peran Saka di Malinau

NUNUKAN - Kabupaten Nunukan mengirimkan 37 Pramuka untuk mengikuti Peran Saka Pramuka Tingkat Daerah Kalimantan Timur di Kabupaten Malinau. Kegiatan tersebut berlangsung selama lima hari pada 20-24 Agustus yang akan dirangkaikan dengan Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun Gerakan Pramuka ke- 52 tahun pada 24 Agustus mendatang.

“Kami  mengirimkan 37 anggota Pramuka terdiri dari 16 anggota Pramuka Saka Bhakti Husada, 15 anggota Pramuka Saka Bahari, 2 anggota Pramuka unsur Dewan Kerja Cabang, 2 Pembina unsur Andalan Cabang, 1 orang petugas kesehatan dari Saka Bhakti Husada dan seorang petugas keamanan dari Saka Bahari,” ujar Haji Trisno Hadi, Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kabupaten Nunukan.
 
Kegiatan tersebut diikuti Pramuka Penegak dan Pandega dari 14 kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.
 
Trisno Hadi berharap, pada kegiatan yang melibatkan seluruh satuan karya Pramuka, peserta asal Nunukan bisa menimba ilmu yang lebih banyak dari rekan-rekannya terutama dari satuan karya yang berbeda.
 
“Jadi kalau dia ahli Bahari, itu dia cari Bhayangkara di sana. Nanti ilmunya bisa bertambah,. Kalau bisa dia ke saka-saka lain,” ujarnya.
 
Kegiatan ini juga harus dimanfaatkan untuk mencari kenalan Pramuka dari daerah lainnya di Kaltim. “Dia bisa persahabatan antara mereka dan unjuk gelar masing-masing. Saya lihat, itu adik-adik bisa melatih percaya diri, kualitasnya lebih meningkatlah” ujarnya.
 
Sumber : http://kaltim.tribunnews.com/2013/08/19/37-pramuka-nunukan-ikut-peran-saka-di-malinau

Senin, 19 Agustus 2013

Aksi Pramuka di Upacara Kemerdekaan RI di Sydney

Gerakan Pramuka sampai juga ke Sydney, Australia. Tak heran ketika upacara peringatan hari kemerdekaan RI ke 68 lalu di KJRI Sydney, Pramuka menjadi panitia acara.

Seperti disampaikan Konsul Penerangan Sosial Budaya KJRI Sydney Nicolas Manoppo, Senin (19/8/2013) dalam siaran persnya, upacara dihadiri oleh tokoh-tokoh masyarakat Indonesia, para undangan dan anggota Gugus Depan (Gudep) Gerakan Pramuka Indonesia Nomor Australia 001 dan 002.

Petugas upacara terdiri dari pembaca Salinan Naskah Proklamasi, pembaca Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, pengerek bendera Indonesia Merah Putih, pembaca doa, dilakukan oleh Anggota Gudep Gerakan Pramuka yang terdiri dari anak-anak masyarakat Indonesia dari organisasi masyarakat yang berada di New South Wales, Australia.

Sedangkan pembacaan Pancasila dibawakan oleh Konjen RI Sydney, Gary RM Jusuf. Setelah pelaksanaan Upacara Penaikan Bendera, dilanjutkan dengan pertemuan silaturahmi dengan masyarakat, bertempat di Wisma Indonesia KJRI Sydney.

"Upacara berjalan khidmat dan lancar, diakhiri dengan dengan foto Konjen RI Sydney dan Ibu Resy Jusuf bersama anggota Gudep Gerakan Pramuka Indonesia dan tokoh-tokoh masyarakat," jelas Nicolas.

Petugas upacara pada peringatan HUT ke-68 Kemerdekaan RI ini dilaksanakan penuh anggota Gugus Depan Gerakan Pramuka 001 dan 001 KJRI Sydney. Pelibatan Pramuka ini sebagai upaya telah diaktifkan kembali Gugus Depan Gerakan Pramuka Nomor Australia 001 dan 002 di Sydney pada bulan Mei 2013.

Pengaktifan kembali Gudep Gerakan Pramuka tersebut dilakukan setelah mengalami masa vakum sejak tahun 1980-an. Masyarakat Indonesia khususnya para orang tua juga sangat antusias menghadiri upacara peringatan HUT ke-68 Kemerdekaan kali ini.

Mereka ingin melihat kebolehan para putra-putri mereka para pelajar dari sekolah-sekolah di New South Wales, yang sebagian telah menjadi warga negara Australia, dapat mendemonstrasikan kebolehan sebagai petugas upacara HUT RI.

Selama ini, petugas upacara termasuk di dalamnya Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) dalam setiap Upacara Peringatan HUT RI dilakukan oleh mahasiswa Indonesia yang berkuliah di perguruan tinggi di NSW.

Dalam kegiatan kepramukan, itu terbagi dalam regu-regu anggota masyarakat seperti regu Iqra, remaja-remaja dari gereja-gereja dan masjid-masjid Indonesia. Ada juga organisasi masyarakat seperti: Minang Saiyo, Bona Pasogit, Kawanua di NSW dan sekitarnya, Sekolah Indonesia Pelangi.

Kegiatan yang dilakukan akan bersifat fun game, latihan yang lebih bersifat memperkenalkan ke-Indonesiaan, karena anak-anak masyarakat Indonesia ini lahir dan tinggal lama di Australia, yang bahkan banyak diantaranya yang mulai tidak dapat berbahasa Indonesia.

Sumber : http://news.detik.com/read/2013/08/19/095035/2333656/10/ini-aksi-pramuka-di-upacara-kemerdekaan-ri-di-sydney?9922022

Minggu, 18 Agustus 2013

Kursus Orientasi Saka Kencana Se-Kabupaten Kukar

Kepala Badan Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak BKBP3A Kukar , Hj Aji Lina Rodiah, Selasa ( 13/8 ) membuka kursus orientasi bagi pamong dan instruktur satuan karya pramuka keluarga berencana Saka Kencana Se-Kabupaten Kukar, di Aula Disparbud Lantai III Gedung Kembar Blok B Komplek Perkantoran Kantor Bupati Kukar di Tenggarong.

Hj Aji Lina Rodiah mengatakan, kursus orientasi bagi pamong dan instruktur Saka Kencana Se-Kukar Tahun 2013 merupakan wadah kegiatan dan pendidikan dalam rangka meningkatkan pengetahuan, ketrampilan praktis dan bakti masyarakat dalam bidang keluarga berencana, sekaligus implementasi dalam rangka meningkatkan peran serta dan bakti masyarakat generasi muda di Kukar, yang bertujuan membina anggota gerakan pramuka agar menjadi tenaga kader pembangunan dalam bidang keluarga berencana, keluarga sejahtera dan pengembangan kependudukan guna memantapkan pelembagaan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera sebagai cara yang layak dan bertanggung jawab dari seluruh keluarga dan masyarakat Indonesia.

Hj Aji Lina Rodiah juga berharap melalui kegiatan ini setiap peserta diharapkan mampu dan mau menyebarluaskan kepada masyarakat tentang informasi keluarga berencana dan keluarga sejahtera, mampu memberikan pelatihan tentang kegiatan keluarga berencana dan keluarga sejahtera kepada para anggota Pramuka di gugus depannya, sekaligus mampu menjadi pamong dan instruktur Saka Kencana yang memiliki sikap yang rasional dan bertanggung jawab dalam mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera.

Sementara itu, menurut ketua panitia pelaksana Erwinsyah mengatakan , kegiatan ini dilaksanakan selama 3 ( tiga ) hari, 13 – 15 Agustus 2013, diikuti 60 ( enam puluh ) peserta yang terdiri dari Pembina Pramuka / Pamong Saka Kencana 17 orang, petugas KB / instruktur Saka Kencana Kecamatan 34 orang serta pengurus Saka Kencana Kabupaten sebanyak 9 orang. Bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dibidang Satuan Karya Pramuka Keluarga Berencana ( Saka Kencana ), sekaligus membina anggota Pramuka agar menjadi tenaga kader pembangunan yang lebih professional.

Sedangkan materi yang diberikan meliputi pengertian, tujuan, tugas pokok dan fungsi gerakan pramuka, program pembangunan ketahanan dan kesejahteraan keluarga, satuan karya pramuka kencana, pendalaman krida – krida Saka Kencana, praktek kegiatan krida di alam terbuka serta program tindak lanjut kegiatan dilapangan. Sedangkan bertindak sebagai narasumber dalam kegiatan ini Kepala Badan KB,PP dan PA Kukar, serta Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kukar, jelas Erwinsyah .

Sumber : http://news.kutaikartanegarakab.go.id/?p=2174

Sabtu, 17 Agustus 2013

Pramuka Sambas Ramaikan Pawai Obor 2013

1440 anggota Gerakan Pramuka Kab Sambas turut meramaikan meriahnya pawai obor peringatan hari pramuka tahun 2013 di Halaman Kantor Bupati Sambas, Jum’at Malam (16/8). Pawai Obor secara resmi dilepas Bupati Sambas, dr Hj Juliarti Dj Alwi MPH didampingi Wakil Bupati Sambas, DR Pabali Musa MAG, dan jajaran Forkopinda Kab Sambas, Sekda dan Pejabat Eselon II Pemda Sambas.

Semarak pawai obor tahun ini dimeriahkan juga kembang api, dikawal ketat satuan polisi resort sambas dari satuan lalu lintas. Anggota gerakan pramuka dari berbagai utusan sekolah semangat mengikuti pawai obor. Keikutsertaan para peserta pawai akan dinilai oleh tim khusus, dan bagi pemenang berhak mendapat piala, piagam dan kenang-kenangan dari panitia pawai obor 2013. Peserta pawai obor memulai gerak jalan dari halaman kantor bupati sambas, menuju keraton Alwatzikoebillah Sambas memutar kembali ke Kantor Bupati Sambas.

Dalam sambutannya, Bupati menegaskan beberapa hal penting terkait dari pelaksanaan pawai obor 2013. “Kita berharap dengan kegiatan pawai obor ini semakin membulatkan tekad kita untuk lebih memantapkan eksitensi gerakan pramuka serta melaksanakan dan mengembangkannya di Kwartir cabang gerakan pramuka sambas,” ujar Bupati. Karena kata Juliarti, fungsi gerakan pramuka yakni membentuk kaum muda Indonesia yang berkepribadian, berwatak serta berbudi pekerti yang luhur demi masa depan bangsa negara dan tanah air indonesia.

Dia menjelaskan gerakan pramuka merupakan wadah pendidikan luar sekolah dan diluar keluarga, dilaksanakan dalam bentuk kegiatan yang menari, menantang dan menyenangkan dengan menggunakan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan. Berbagai kegiatan diselenggarakan gerakan pramuka tambah Juliarti disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan jiwa peserta didik, sebagai upaya pencapaian tujuan akhir proses pembinaan yaitu pembentukan watak dan karakter yang sesuai dengan perkembangan jaman.

“Salah satunya adalah kegiatan pawai obor yang sedang kita laksanakan, dalam rangka memperingati HUT gerakan pramuka ke-52 tahun 2013 dan proklamasi kemerdekaan republik indonesia ke-68 tahun 2013, mari kita semua mengenang kembali serta membulatkan tekad kita untuk lebih meningkatkan semangat persatuan dan kesatuan,” tutur dia.  Melalui gerakan pramuka, terang Bupati yang telah berhasil mempersatukan kaum muda Indonesia, melangkah lebih maju, berperan aktif meningkatkan semangat persatuan dan kesatuan seluruh rakyat, masyarakat, bangsa dan negara dan tanah air indonesia, dapat meningkatkan semangat mewujudkan cita-cita bangsa, tentunya gerakan pramuka sebagai alat pemersatu dan perekat bangsa.

Sumber : http://www.sambas.go.id/informasi-daerah/102-pemerintah-daerah/2914-1440-pramuka-ramaikan-pawai-obor-2013.html

Jumat, 16 Agustus 2013

Pemerintah Akan Rekrut Guru Pramuka

JAKARTA -- Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akan merekrut guru untuk melatih ekstrakurikuler Pramuka di sekolah. Perekrutan tersebut dilakukan karena pada Kurikulum 2013 ini pramuka menjadi ekstrakurikuler wajib.

"Guru yang direkrut adalah guru yang mengajar di sekolah tersebut," kata Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono di Aula RRI Jakarta Kamis (15/8) usai Halal bi Halal di jajaran Kemenko Kesra.

Agung menuturkan guru yang direkrut tersebut akan dilatih dan dididik oleh Kwarnas, Polisi, tentara, dan instansi terkait. Menurut Agung diwajibkannya Pramuka sebagai ekstra kurikuler  karena banyak anak didik saat ini yang tidak tahu akan arti dan makna pendidikan pramuka.

Padahal, nilai-nilai yang diajarkan dalam Pramuka sangat penting dalam membangun katakter bangsa."Pendidikan kepramukaan akan kembali direvitalisasi dan difungsikan optimal," katanya.
Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengatakan kegiatan belajar mengajar Kurikulum 2013 baru akan efektif berjalan pada 19 Agustus 2013. Hal ini disebabkan adanya sejumlah daerah yang selama bulan puasa sekolah libur total.

Ia mengungkapkan, setelah satu bulan pelaksanaan Kurikulum 2013 akan dilakukan monitoring dan evaluasi (monev). Kegiatan monev ini akan dilakukan pada akhir bulan Agustus atau awal September. “Monev yang dilakukan bukan sampling, tetapi sensus. Setiap sekolah sasaran akan dilihat,” kata dia.

Aspek pertama yang akan dilihat selama monev, Nuh mengungkapkan, yaitu materi bahan ajar dan kegiatan belajar mengajar yang melibatkan guru, peserta didik, kepala sekolah, pengawas, komite sekolah, dan orang tua. 

Mereka, kata Nuh, juga akan diminta tanggapan dan kesannya terhadap buku pegangan Kurikulum 2013 yang dibuat Kemdikbud. "Hal ini diperlukan sebab buku ini akan digunakan sebagai acuan buku pada semester II, yang saat ini sedang disusun,” katanya.

Aspek lainnya, lanjut Nuh yaitu progres rapor guru dimulai saat pelatihan nasional guru inti hingga guru sasaran. Tujuannya adalah ingin diketahui nilainya sebelum dilatih dan sesudah dilatih. 

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/08/15/mrkv3x-pemerintah-akan-rekrut-guru-pramuka

Rabu, 14 Agustus 2013

Pramuka Tak Ter-Reformasi

Hari Pramuka atau HUT Pramuka-kah hari ini?
Konon, 52 tahun usianya
Jika saya harus melakukan kontemplasi untuk hari ini, maka yang langsung terlintas di ingatan saya adalah disebutnya kata “Pramuka” dalam yell-yell atau syair parodi Mars ABRI yang saya dengar dari kelompok mahasiswa demonstran di tahun 94-95-an:

Syair parodi berisi ejekan itu menyebut: “…… diganti Menwa, ya sama saja.. lebih baik diganti Pramukaaaa!!”

Di masa itu, pikiran sederhana yang mendengarnya akan serta merta menempatkan Pramuka “sejenis” dengan Menwa dan ABRI.

Pikiran lain yang lebih njlimet akan terusik dengan ditempatkannya Pramuka di level ketiga (entah terendah, tertinggi, terbaik, terpolos atau ter- lainnya) setelah ABRI dan Menwa.

Pikiran iseng akan bertanya: tersinggungkah Pramuka dimasukkan ke dalam yell-yell atau nyanyian bernada mengejek itu?

Saya terpaksa harus kembali jauh ke seperempat abad yang lalu, saat  tekhnologi komunikasi belum secanggih sekarang. Publik jarang mengetahui ada prestasi-prestasi hebat lain yang bisa diraih seorang siswa/pelajar selain menjadi rangking 1 atau juara umum saja. Prestasi akademik seolah menjadi gelar tertinggi yang lazim  bagi kalangan pelajar SMP_SMA saat itu. Masa itu, pramuka sudah identik dengan perbaikan karakter dan moral. Publik akan mahfum saat seorang pelajar dengan prestasi akademik yang baik juga sesekali mengenakan seragam pramuka yang lengkap dengan selempang dipenuhi tanda-tanda kecakapan khusus.

“Pantas saja dia berprestasi di Pramuka, karena dia anak pintar dan baik.” atau sebaliknya: “Pantas saja dia rangking terus dan baik anaknya, di Pramuka-nya juga berprestasi sih..” Pramuka, anak yang pintar, rajin dan baik. Singkatnya, di jaman saya SMP itu; Pramuka itu keren.

Bagi saya pribadi, Pramuka lebih dari itu. Sanggar Pramuka dan seluruh penghuninya adalah keluarga dan rumah ke-2 saya. Saat bel pulang sekolah berbunyi, opsi untuk pulang adalah ke rumah, atau ke sanggar pramuka.

Saya harus bilang karena tidak canggihnya teknologi informasi, maka interaksi antara kami, anak-anak pramuka penggalang, waktu itu, dengan kakak-kakak pembina kami, bagaikan seorang mursyid dengan murid-muridnya. Kakak pembina pramuka adalah kakak yang hebat dan kami banggakan, tempat kami bertanya dan curhat, sekaligus tempat kami mencari referensi. Bahkan untuk berbagai hal di luar kegiatan pramuka; termasuk soal pelajaran di sekolah. Mengapa begitu; karena semua yang baik, disiplin dan terpuji sajalah yang terlihat pada kakak-kakak pembina kami.

Kembali ke tahun 94-95 saat saya mendengar yell-yell atau lagu parodi yang saya sebut di awal tadi, Pramuka disebut disitu, menurut saya, adalah pengakuan masih “baik dan keren”-nya Pramuka, atau masih “masuk-akalnya” dibanding dua organisasi militan yang disebut sebelumnya. Tapi benarkah pramuka itu militan?

Baris-berbaris seperti tentara, iya. Bahkan ada pelatihan fisik bak tentara sesungguhnya di satuan-satuan karya tertentu. Patuh pada pimpinan? tentu saja, karena menurut Dasa Dharma pramuka itu patuh dan suka bermusyawarah. Fokus pada misi dan tujuan? Nah… mungkin di “wilayah” itu muncul anomali-anomali.

Mari kita kembali ke tahun sekarang; ketika segala sistem yang melibatkan pendidikan, kemasyarakatan dan organisasi kemasyarakatan ber-reformasi. Terjadi perubahan tatanan atau perbaikan konsep (menjadi lebih baik). Jika boleh saya menyebut ini adalah dampak kemajuan teknologi komunikasi; kelompok masyarakat terpelajar jadi tahu dan mengerti lebih banyak tentang kekurangan dalam sistem lama, dan menuntut perbaikan atas nama perkembangan zaman. Apa yang terjadi dengan Pramuka?

Terima kasih pada–lagi-lagi–teknologi informasi, kita yang bukan siapa-siapa dalam suatu organisasi jadi boleh dan bisa tahu banyak tentang apa yang terjadi di dalam sebuah organisasi. Dulu, 25 tahun yang lalu, sebagai pemimpin regu “Flamboyan”, segala tentang Pramuka adalah apa yang diperkenalkan oleh kakak pembina saya. Kini, sebagai ibu, seperti ibu-ibu lainnya yang juga menggauli alat komunikasi, saya bisa mencari tahu apa yang terjadi dengan organisasi yang dulu saya banggakan tetapi kini oleh anak-anak saya disebut “organisasi lebay.” Tentu saja tidak semua pramuka lebay dan tidak semua anak berpendapat seperti anak saya, meski saya bisa menjamin bukan hanya anak saya yang berpendapat demikian; tetapi mengapa sampai ada pendapat seperti itu?
Saya tidak akan mengulas kehebatan pramuka. Saya yakin dan percaya pramuka hebat. Saya di sini hanya akan membicarakan anomali-nya.

Keterampilan tali temali, baris berbaris, permainan mencari jejak dan sandi-sandi tidak lagi menarik bagi anak-anak/remaja pelajar masa kini?  tidak juga. Mereka bermain game komputer mencari jejak dan memecahkan sandi, mereka juga menyukai parade atau terlibat di dalamnya, dan senang membuat sesuatu dari benda-benda; termasuk jika itu melibatkan tali. Lalu apa yang salah dengan pramuka? mengapa anak-anak saya menyebutnya organisasi lebay dengan kakak-kakak pembina yang “kampungan”?

Jawabannya adalah: karena Pramuka tidak ikut melakukan reformasi seperti organisasi kemasyarakatan atau lembaga pendidikan lainnya. Dan ini bukan tentang kecendekiaan atau modernisasi.

Pelajar yang dalam pramuka disebut Peserta Didik, kini memiliki keleluasaan akses untuk menilai dan mempertimbangkan apa dan bagaimana Pramuka dari “luar”-mereka melakukan “window shopping”; melihat dan menilik. Tak terbantahkan betapa konsep pendidikan dalam Pramuka memang tepat untuk menciptakan karakter pemuda yang mencintai alam, yang bersikap ksatria, menjadi patuh aturan dan suka bermusyawarah, senang menolong dan giat bergotong royong, yang menjunjung tinggi disiplin dan kehormatan korps. Masalahnya adalah Pramuka tidak mampu memastikan semua “jendela”-nya bersih dan “menarik” bagi para window shopper ini.

Reformasi di negri ini terjadi ketika wakil rakyat sudah dianggap tidak layak mewakili, sudah tidak representatif; ketika rakyat malu hati memiliki wakil yang tidak sesuai dengan jati diri kita, rakyat Indonesia. Pramuka, yang kukuh pada jalan yang lurus melupakan reformasi ini. Tidak ada upaya “membersihkan jendela.” Kakak-kakak pramuka hebat yang kini memegang otoritas tertinggi organisasi terbesar di Indonesia ini melupakan adanya perbaikan dan pembersihan. Mereka lupa bahwa adik-adik peserta didik jaman sekarang memiliki lebih banyak akses dan pilihan.

Secara hirarkis tugas seorang pramuka berprestasi tentu saja berpindah ke tempat yang lebih tinggi. Sistem among yang menjadi urat nadi kegiatan menjadi keniscayaan ketika seorang kakak pembina pramuka tidak lagi bersentuhan dengan peserta didiknya. Kerusakan lebih parah terjadi ketika; saking besarnya organisasi ini, sistem among ini berganti jadi sistem birokrasi; apalagi kemudian para pemegang tampuk kepimpinannya diserahkan pada birokrat. Tentu saja anggaran dan pendanaan lalu lalang di dalamnya. Lengkap sudah lapisan debu dan kaca “film” (gelap) yang menutupi jendela-jendela pramuka. Alih-alih mempercantik kualitas “jendela” (kualitas dan kredibilitas para pembinanya) atau menambah kekuatan sistem among sebagai sistem pendidikan yang dianutnya, anggaran atau pendanaan ini malah jadi api dalam sekam. Beberapa tatanan dan etika organisasi yang seperempat abad yang lalu menempatkan kakak pramuka saya sebagai “guru” dan panutan; luruh. Ruh kepanduan yang menguatkan pribadi setiap anggotanya dan membuat pramuka dianggap “keren” oleh lingkungannya,  kini menguap entah kemana.

Contoh kecil saja: pembina pramuka yang berpangkalan di sekolah dan masih “tak tahu malu” merokok di ruang publik, dalam kegiatan pramuka dan di depan peserta-peserta didiknya! __ adakah sangsi untuk mereka? Tidak. Jika kemudian dia tersadar, beranikah dia mengatur pelarangan merokok untuk pramuka dewasa dan pembina? Tidak bisa! Jika… kakak Ketua kwartirnya, yang adalah atasannya dalam struktur perintahan/hirarki kepegawaian-nya juga merokok. Misalnya!

Contoh lainnya: seorang pimpinan dalam pramuka memutuskan untuk menyelenggarakan acara nyanyi-nyanyi pada kegiatan buka bersama di bulan Ramadhan sebagai “upaya” membuat kegiatan pramuka lebih “hip” atau keren? Bukankah itu pemikiran yang blunder?

Pramuka yang menganut sistem among; tetapi kemudian “membiarkan” ada pembinanya yang merokok, memalsukan data prestasi anak demi kelengkapan administrasi atau nama baik dalam suatu kompetisi kepramukaan, berbuat nepotisme atau bahkan korupsi. Absurd, bukan? mending mana: disebut “lebay” atau “absurd”??

Rumah ke-2 saya seperempat abad yang lalu kini tak lebih dari “kantor” bagi sebagian yang menggantungkan hidup dari dana abadi pramuka, dan “kantor yang birokrasinya ribet” bagi sebagian yang lain. Tapi apakah setidaknya menjadi kantor publik, sebagaimana tujuan dan misi Gerakan Pramuka untuk bangsa ini? Atau seorang pegawai pramuka itu setidak-tidaknya seorang pramuka juga, bukan?

Keribetan birokrasi itu dimulai ditingkat organisator di atas para kakak pembina; masing-masing memikirkan kelanjutan karir atau pekerjaan mereka dalam kantor besar Gerakan Pramuka. Mereka yang sejati dengan idealisme kepanduannya harus bersinggungan dengan mereka yang sudah kadung berjaya dan tidak ingin kehilangan pekerjaannya di kantor tersebut meskipun mereka “jadul” dan tidak well up-dated misalnya… sementara adik-adik peserta didiknya jauh lebih cerdas, lebih kritis dan lebih pandai mengaktualisasikan diri.

Dengan semua ketidak sinkron-an tersebut, lalu siapa yang memastikan kakak-kakak pembina pramuka sebagai “jendela” organisasi tetap menjadi pribadi dan sosok yang representatif di mata adik-adik peserta didiknya? Jawaban yang saya terima adalah: “Ya, kakak seniornya masing-masing, lah…lagipula kalau kakak pembinanya adalah PNS Guru di pangkalan tersebut, mana mungkin “kami” bisa minta dia mundur hanya karena dianggap tidak becus!”

Ah, baiklah… ketidak berdayaan dalam persinggungan otoritas rupanya? lalu bagaimana pramuka menjawab tantangan pemerintah yang gemas dengan “konsep pendidikan untuk pembentukan karakter” yang akan “ditimpakan” pada organisasi yang secara global diakui memiliki sistem pembentuk karakter terbaik ini? (Konon Pramuka akan diwajibkan dilaksanakan di semua sekolah formal pada 2014 nanti) Bagaimana pramuka di usia ke-52-nya ini membersihkan “jendela2-nya” yang kotor sehingga calon peserta didiknya tidak menyebutnya sebagai organisasi lebay dan kampungan?

Jadi betulkah pendidikan dan pembentukan karakter dengan sistem among itu TELAH berjalan mulus hingga usianya yg ke-52 ini? Apakah spanduk puluhan meter yang dipamerkan sebagai perayaan itu bisa menghapus kotor dan bureknya “jendela” PRAMUKA  di mata para calon peserta didiknya?
Kakak pembina saya dulu bernama Kak Hadis, beliau pernah berkata: “Sekali Pramuka; Pramuka sepanjang hayat! Apapun seragam yang dikenakannya!”

Maka, hari ini, saya yang merasa tak pernah meninggalkan pramuka, rumah ke-2 saya dulu, ingin mengajak pramuka-pramuka yang masih berseragam dan yang sudah tidak mengenakan seragam untuk melakukan REFORMASI: membersihkan jendela! dan mengembalikan sistem among ke dalam organisasi luar biasa ini.

Negri ini sudah ber-reformasi, meski kemudian ada yang menyebutnya gagal; namun setidaknya reformasi telah dilakukan dan bisa dilakukan kembali. Pramuka?

Dirgahayu pramuka! Jadilah pandu bangsa seperti dalam lagumu, karena pramuka bukan menwa atau tentara, terlebih lagi; pramuka (seharusnya) bukan birokrat.

SALAM PRAMUKA!!

Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2013/08/14/pramuka-tak-ter-reformasi-584123.html

Selasa, 13 Agustus 2013

KADIN Jabar mendorong pembentukan Pusat Inkubasi Bisnis bagi Pramuka mulai dari Kwarcab

Hal tersebut dilakukan karena anggota pramuka yang berjumlah ribuan orang menjadi potensi besar demi gerakan kewirausahaan nasional.

"Perlu ada entrepreneur center dan pusat inkubator bisnis untuk Pramuka," ujar Wakil Ketua Kadin Jabar Bidang UMKM, Iwan Gunawan kepada wartawan, Selasa (13/8/2013).

Menurutnya, upaya menumbuhkan jiwa wirausaha bagi sama pentingnya seperti pembekalan life skill yang selama ini diberikan kepada anggota pramuka. Pelajaran kewirausahaan akan melahirkan kemandiriaan bagi anggota organisasi yang identik dengan simbol kacu tersebut.

Dia juga menjelaskan sebagian besar anggota pramuka yang masih berusia muda menjadi peluang besar untuk mengembangan jiwa kewirasausahaan sejak dini. Pasalnya, banyak anggota yang masih berstatus pelajar mulai dari tingkat SD, SMP maupun SMA.

"Sejak usia dini perlu dilakukan internalisasi kewirausahaan," kata Iwan.

Selain itu, sistem inkubasi juga sejalan dengan program revitalisasi Gerakan Pramuka. Sistem ini akan melahirkan peluang dan inovasi yang memperkaya khazanah kepramukaan.

"Menumbuhkan jiwa kewirausahaan melalui Prmauka akan mebuka jalan kemandirian ekonomi," ucapnya.

Iwan menilai mendidik keirausahaan bagi anggota pramuka akan sangat mudah. Sebab, para anggota sebelumnya telah telah memiliki bekali sikap disiplin yang merupakan salah satu modal dasar berwirausaha.

Tak hanya itu, Pramuka juga memiliki prinsip yang sejalan dengan iklim usaha dimana setiap tantangan harus dikelola dan dihadapi dengan kreatifitas. Para anggota juga telah diajari untuk menuntaskan tantangan tersebut dengan kekompakan.

"Semangat anak muda yang dipadukan denhan kemandirian dari sisi ekonomi akan menjadi melahirkan energi positif berwirausaha dengan jiwa Pramuka," ucapnya.

Namun demikian, perlu ada kelembagaan yang menggarap serius program inkubasi bagi Prmauka ini. Lembaga tersebut harus sangat mengenal Pramuka agar kegiatan program bisa berjalan efektif.

"Entrepreneur center akan menjadi tempat inkubasi bisnis yang sangat cocok bagi Pramuka," pungkasnya.

Sumber : http://m.inilahkoran.com/read/detail/2019116/kadin-usulkan-inkubasi-wirausaha-bagi-pramuka