Thursday, 21 August 2014

Bakar Batu Warnai HUT Pramuka di Deiyai Papua

Deiyai, Peringatan Hari Uang Tahun Gerakan Pramuka ke-53 14 Agustus 2014, berlangsung aman dan tertib di lapangan Thomas Adii Waghete Kamis (14/8). Acara diwarnai bakar batu di Kabupaten Deiyai halaman SMA N Tigi Waghete yang juga sebelumnya digunakan sebagai tempat perkemahan Bakti Sosial. Berbagai kegiatan dilaksanakan menjelang peringatan HUT Gerakan Pramuka dilaksanakan melalui Panitia yang ketuai oleh Felix Tekege, S.Sos.
Berikut laporan jalannya acara perkemahan Bakti Sosial hingga pelaksanaan peringatan HUT Gerakan Pramuka yang diikuti oleh 3 Kwarcab di wilayah Meuwodide, yakni Kwarcab 26-26 Deiyai, Kwarcab 26-09 Paniai . Kwarcab 26-22 Dogiyai, dipusatkan di lapangan Thomas Adii Waghete Deiyai Papua Indonesia.
Sebelumnya tahun 2013, Kwarcab 26-09 Paniai menjadi tuan rumah untuk melaksanakan HUT Gerakan Pramuka ke-52 tahun 2013 lalu, tahun 2014 Kwarcab 26-26 Deiyai menjadi tuan rumah. Panitia pelaksana melaksanakan sejumlah kegiatan diantaranya penghijauan tempat umum, kebersihan kota dan mendapatkan sejumlah materi tentang Kantibmas oleh pihak Kepolisian Resort Tigi.
Perkemahan Bakti Sosial, diikuti oleh 200 orang peserta, masing-masing dari Kwarcab. Perkemahan Bakti Sosial yang dimulai sejak tanggal 12-14 Agustus tersebut melibatkan semua uncertain gugus depan, Saka, Kwaran, Dewan Kerja Cabang, tidak ketinggalan pula pengurus Kwartir Cabang 26-26 Deiyai sebagai tuan rumah.
Tepatnya tanggal 14 Agustus merupakan hari pelaksanaan Perayaan HUT Pramuka. Wakil Bupati Kabupaten Deiyai Agustinus Pigome, S.Ag selaku Kak Mabicab bertindak sebagai pembina upacara. Dalam pidatonya menyebutkan Sesunggunyalah pada saat ini, kaum muda dihadapkan pada dua masalah besar yaitu yang berkaitan dengan masalah sosial dan masalah kebangsaan.
“Masalah sosial meliputi mengkonsumsikan minuman keras, perjudian berupa Toto gelap dan serupa lainnya, hubungan seksual pra-nikah dan aborsi yang disebabkan pergaulan bebas; perkelahian, serta kriminalitas remaja,’’ ungkap Kak Mabicab.
Sedangkan masalah kebangsaan kata Agustinus antara lain meliputi solidaritas sosial rendah; semangat kebangsaan rendah; semangat bela negara rendah; dan semangat persatuan dan kesatuan rendah. Hampir setiap hari media massa cetak dan elektronik memberitakan bahwa gambaran kaum muda masih mengalami tingginya angka putus sekolah; sulitnya mendapatkan pekerjaan karena terbatasnya ketrampilan yang dimiliki; rendahnya rasa hormat kaum muda kepada orang yang lebih tua dan para guru. ”Perubahan gaya hidup yang menjurus pada perilaku tidak sehat, meningkatnya perilaku merokok pada usia muda,” cetusnya.
Ia menegaskan, permasalahan ini tentu saja sangat memprihatinkan kita semua. Untuk kepentingan bangsa dan negara pada masa depan, pelbagai masalah dan atau tantangan yang dihadapi tersebut, tentu saja harus segera dapat ditanggulangi. Disinilah menjadi penting peranan gerakan Pramuka sebagai lembaga pendidikan non grave yang tujuan utamanya adalah untuk membentuk kaum muda berkarakter, menanamkan semangat kebangsaan, dan meningkatkan keterampilan.
“Untuk itulah, kerjasama dengan berbagai pihak sangat diharapkan, karena kaum muda merupakan bagian terbesar penduduk Indonesia yang harus diselamatkan dari cengkraman berbagai masalah,” jelas Agustinus.
Dia menterjemahkan module nasional, dalam kurun satu dasawarsa dapat dicatat 3 (tiga) momen penting perkembangan Gerakan Pramuka, yaitu pertama, Bapak Presiden RI telah mencanangkan kembali Revitalisasi Pramuka pada Hari Pramuka tahun 2006 yang saat ini tampak keberhasilannya dengan semakin marak kegiatan kepramukaan di berbagai daerah; kedua, terbitnya Undang-Undang Nomor 12 tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka yang memperkuat legalitas Pramuka di negeri ini. Dengan telah terbitnya Undang-Undang tersebut maka pelaksanaan pendidikan kepramukaan pada saat ini tidak lagi hanya sekedar mengisi masa senggang kaum muda dengan pelbagai kegiatan yang positif, akan tetapi telah meningkat menjadi kewajiban setiap warga negara untuk mengimplementasikannya; dan ketiga, masuknya pendidikan kepramukaan ke dalam kurikulum 2013 sebagai ekstra kurikuler wajib yang mulai diberlakukan pada bulan Juli 2014 lalu.
Gerakan Pramuka sebagai lembaga pendidikan non grave akan melengkapi pendidikan spontaneous yang diperoleh anak-anak dalam keluarga, dan pendidikan grave di sekolah.
“Hal ini mengingat pendidikan grave saja tidaklah cukup untuk menghasilkan kaum muda yang handal dan berkarakter. Sedangkan peranan keluarga sebagai pelaku pendidik spontaneous yang dilakukan orang tua dalam membentuk karakter anak-anak sangatlah penting,” paparnya.
Seraya menambahkan, Sementara persoalan kaum muda sering terjadi diantara rumah dan sekolah, maka menjadi penting peranan Gerakan Pramuka dalam mengatasi permasalahan kaum muda yang terjadi tersebut. Kerjasama sinergis antara lembaga pendidikan formal, non grave dan pendidikan spontaneous dalam keluarga sangatlah penting dan menjadi keharusan.
Usai upacara dilanjutkan acara bakar batu yang dipusatkan di halaman SMA Negeri Tigi, Waghete ibukota Kabupaten Deiyai. Tepatnya pukul 08.00 pagi dilaksanakan upacara pembubaran bersama yang diwarnai dengan pemberian kado HUT kepada peserta Pramuka yang lahir bertepatan dengan tanggal 14 Agustus.
Sumber : http://jadi1.com/bakar-batu-warnai-hut-pramuka-di-deiyai-papua#.U_VUf8V_tV5

0 comments:

Post a Comment